Tampilkan postingan dengan label pinggirpapas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pinggirpapas. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Organisasi Metro Bolys Salurkan Bantuan Untuk Anak Yatim

Sumenep- Untuk kesekian kalinya organisasi Pemuda Kreatif Metrobolys menggelar acara Bakti Sosial Santunan anak yatim. Acara ini berlangsung pada hari Senin, 04/07/2016 dan ditempatkan di RA.Raudlatul Iman desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Dalam acara tersebut Pemuda Kreatif Metro Bolys (PKMB) mengundang puluhan anak yatim yang berasal dari desa Pinggirpapas.

Bantuan terhadap anak-anak yatim ini berupa uang dan juga alat tulis mengingat usia anak-anak ini masih dalam usia wajib belajar dan menjelang tahun ajaran baru. Ketua Umum Metro Bolys Syaiful Rahman berharap bantuan yang tidak seberapa ini berguna bagi anak-anak yatim. Pihaknya juga menyampaikan terimakasih kepada berbagai pihak khususnya para donatur yang telah berpartisipasi dalam acara tersebut.

Organisasi pemuda Metro Bolys ini memang sering menggelar acara dan juga kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh warga desa Pinggirpapas. Sebelumnya organisasi ini telah melaksanakan berbagai kegiatan diantaranya kerja bakti membersihkan rumput di pemakaman umum, mengadakan acara keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi serta kegiatan rutin dibulan Ramadhan berupa Bakti Sosial santunan anak yatim seperti yang dilaksanakan tahun ini.

Romeltea Media
Bumi Garam Updated at:

Sabtu, 18 Juni 2016

SKN Santri Sukorejo Dapat Sambutan Warga

Bumigaram-Sumenep. Sekelompok santri yang tergabung dalam Ikatan Santri Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo mengadakan kegiatan di Desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep. Kegiatan yang dikemas dalam acara Rihlah Ramadlan Santri (SKN) ini  dibuka Sabtu malam 18/06/2016 ba'da sholat taraweh bertempat di halaman RA. Raudlatul Iman Desa Pinggirpapas. Rencananya kegiatan ini akan berlangsung selama kurang lebih 4 hari hingga hari selasa dan akan ditutup dengan pengajian umum.

Dalam pembukaan ini ketua rayon Iksass Sumenep- Pamekasan Elfiyana menyampaikan terimakasih atas sambutan masyarakat terhadap santri yang akan melakukan kegiatan di desa ini. Elfiyana berharap selama kegiatan ini santri dapat belajar banyak hal dari masyarakat sehingga ketika mereka kembali ketengah-tengah masyarakat kelak mereka bisa dengan mudah beradaptasi dan bisa mengamalkan ilmu yang di dapat dari pesantren.

Sementara itu pihak pemerintah desa Pinggirpapas yang diwakili oleh Sekdes Suhrawi menyampaikan respon positif pihak desa dan juga masyarakat.
"Kami sangat bersyukur adik-adik dari Ponpes Sukorejo mengadakan kegiatan keagamaan di desa kami, dan terkait hal ini kami siap mendukung 100% kegiatan ini," ungkap Suhrawi.

Dukungan terhadap kegiatan ini tidak hanya berupa dukungan moril saja akan tetapi juga dukungan materiil.  Masyarakat dan perangkat desa yang hadir dalam pembukaan kegiatan ini mengadakan penggalangan dana yang jumlahnya mencapai hingga 2,8 juta.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan selama kegiatan ini diantaranya adalah Dialog fiqih ibadah, Khatmil Qur'an, Syarwah Kubro, pembacaan Rowatibul Haddad, Pelatihan sholat Tasbih, lomba keagamaan serta beberapa kegiatan lainnya yang akan ditempatkan di beberapa mushollah dan masjid di desa Pinggirpapas. (A.J)

Romeltea Media
Bumi Garam Updated at:

Senin, 28 Juli 2014

Mengintip Idul Fitri di Desa Pinggirpapas




bumigaram,sumenep -Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” begitulah kata pepatah yang berarti beda tempat beda adat istiadatnya. Seperti umat islam pada umumnya usai puasa ramadhan berakhir warga Desa Pinggirpapas juga larut dalam perayaan hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri atau warga setempat menyebutnya “Tellasan”.
Sebelumnya dalam menjalankan ibadah puasa di desa ini ada keyakinan kuat yang tetap dipertahankan oleh beberapa warga dalam menentukan  awal ramadhan. Setiap tahun di desa ini biasanya ada tiga atau dua hari yang berbeda dalam menentukan awal puasa. Puasa pertama yang memulai lebih awal disebut sebagai golongan “Poasaan se toa”( Puasanya orang tua). Golongan ini punya patokan sendiri dalam menentukan awal Ramadhan. Selanjutnya golongan yang kedua melaksanakan puasa keesokan harinya. Puasa golongan ini disebut sebagai “Poasaan se Ngodha”(puasanya orang muda). Dan yang terakhir adalah golongan yang tetap patuh pada ketentuan yang ditetapkan oleh Departemen Agama. Puasa golongan yang terakhir ini disebut “Poasaan Pangulo” (Puasanya Penghulu) atau “Poasaan pamarentah” (Puasanya Pemerintah). Terkadang awal puasa golongan yang kedua bersaman dengan puasa yang mengikuti keputusan Departemen Agama, karena golongan “Poasaan se ngodha” pasti melaksanakan puasa satu hari setelah “Poasaan se toa”.
Begitupun dalam menentukan akhir ramadhan biasanya golongan yang ikut “Poasaan se toa” akan mengakhiri puasa lebih awal dari ketentuan yang ditetapkan Departemen Agama. Akan tetapi dalam hal melaksanakan sholat Idul fitri mereka tetap mengikuti sholat pada hari yang ditentukan pemerintah. Tradisi menyambut Lebaran di desa Pinggirpapas diawali pada dini hari yaitu “Nyekar” (ziarah kubur) ke makam leluhur dan ke makam anggota keluarga lainnya. Selain mendo’akan ahli kubur mereka juga membawa kembang dan juga air yang dicampur bedak tradisional untuk disiramkan atau dipercikkan ke batu nisan.
Usai melaksanakan Sholat Idul Fitri di Mesjid dan Mushalla dimulailah tradisi sungkeman atau yang disebut sebagai “ Bhattean”. Warga yang lebih muda akan mendatangi kerabat yang lebih tua untuk “Abhatte”. Tradisi “bhattean” ini di dominasi mereka yang berusia antara 5 hingga 40 tahun. Sementara yang berusia diatas itu biasanya berdiam diri di rumah untuk menyambut kerabatnya yang lebih muda. Kemeriahan suasana “bhattean” akan terlihat pada sore hingga malam hari. Berbeda dengan di tempat lain tradisi “bhattean” di desa ini hanya berlangsung satu hari. Namun bagi yang mempunyai kerabat diluar daerah mereka tetap membuka pintu hingga beberapa hari. Idul Fitri tahun 2014 ini bertepatan dengan musim kemarau, praktis suasana tak begitu ramai. Maklum hampir separuh atau bahkan lebih penduduk di desa ini jika musim kemarau mereka bekerja diluar desanya dan di wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Sidoarja dan lain-lain. Mereka rata-rata bekerja sebagai pengggarap lahan garam dan baru pulang ketika kemarau sudah berakhir. (Aby)

Romeltea Media
Bumi Garam Updated at:

Sabtu, 23 November 2013

Nyadar Garam, Ritual Warga Pinggir Papas


Nyadar Garam, Ritual Warga Pinggir Papas

Liputan6.com, Sumenep: Tembang Layang Jati Suara Layang Sempurnaning Sembah mengalun pada suatu malam di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Nyanyian ini mengingatkan perjuangan seorang pangeran bernama Anggosuto, yang telah membawa perubahan besar yang membuat Madura terkenal sebagai Pulau Garam.Konon, di pulau terapung Pinggir Papas, Pangeran Anggosuto memulai kehidupannya dan menemukan butiran kristal dari air laut yang telah dibiarkannya berminggu-minggu. Butiran kristal yang kemudian disebut garam itu kemudian diolah sang pangeran sehingga menjadi sumber penghidupan. Inilah yang kemudian mengawali berdirinya tambak-tambak garam di Pulau Madura.
Waktu pun terus bergulir. Tradisi pembuatan garam rakyat terus dilakukan turun-temurun oleh warga Desa Pinggir Papas. Alhasil, ratusan kilogram garam setiap hari diproduksi para petani garam di desa ini. Dengan adanya mata pencaharian ini, warga Pinggir Papas bertambah makmur dan hidup dengan prestise material yang tinggi. Buktinya, haji-haji garam banyak bermunculan dan sarjana-sarjana yang memperoleh biaya pendidikan dari hasil garam lahir setiap tahun.
Meski kini Pinggir Papas telah berubah menjadi sebuah desa yang besar, jasa-jasa Pangeran Anggosuto yang telah membuka cakrawala kehidupan warga tidak dilupakan. Dan setiap tahun menjelang musim panen, warga Pinggir Papas memperingati jasa Anggosuto dalam sebuah upacara yang disebut Upacara Nyadar.
Sehari sebelum Upacara Nyadar, warga mulai sibuk dengan memotong ayam untuk sesaji dan mempersiapkan panjeng sebagai tempat sesajen serta menaruh berbagai perlengkapan sesaji lain di dalam panjeng. Keesokan harinya, kesibukan warga yang akan berangkat melaksanakan Nyadar sudah terlihat sejak dini hari. Dengan memikul tanggik sebagai tempat sesaji, mereka beriringan menuju ke makam Anggosuto. Seperti tradisi sebelumnya, tanggik tersebut dibawa terlebih dahulu ke lokasi sekitar makam Anggosuto, yang terletak di seberang laut di daratan Pulau Madura di Desa Kebun Dadap.
Seiring dengan itu, di sebuah sudut desa terlihat sekelompok orang yang biasa memimpin upacara berkumpul di rumah Mbah Kassa, sesepuh yang juga keturunan Anggasuto. Dari rumah itu, para sesepuh ini berjalan sejauh enam kilometer menuju pemakaman Anggosuto. Dalam perjalanan itu, sebuah pantangan mesti dilakukan para sesepuh, yakni menggunakan alas kaki.
Keberangkatan para sesepuh ini menandakan diperbolehkannya warga yang lain untuk menyusul. Sinar matahari terus beranjak dan tanpa terasa sore telah tiba. Warga yang akan ikut melaksanakan Nyadar terus berdatangan. Tak lupa mereka membawa kembang dan menyerahkannya kepada istri para sesepuh. Saat kembang-kembang telah disiapkan dan para sesepuh sudah berkumpul, waktu ziarah pun tiba.
Di depan pintu makam, warga berdesakan untuk bisa masuk terlebih dahulu ke makam. Akibatnya, kegaduhan terjadi saat juru kunci membuka pintu masuk makam. Adanya kepercayaan bahwa orang yang pertama masuk makam akan lebih dahulu mendapat berkah juga membuat suasana menjadi tambah kacau. Untungnya, kekacauan tak berlangsung lama. Warga kembali duduk dalam posisi tertib ketika doa dan tahlil mulai dibacakan. Selain makam Anggosuto dan istrinya, di kompleks pemakaman itu juga terdapat makam kerabat seperti Syekh Kabasa dan istri, Syekh Bangsa dan istri serta Mbah Dukun dan istri.
Entah bagaimana awalnya, keyakinan membacakan doa-doa bagi Anggosuto dan kerabatnya itu kemudian beralih menjadi sebuah ritual mistis. Semangat untuk meneladani Anggosuto yang telah membuka cakrawala kehidupan dengan memperkenalkan garam sebagai sumber kehidupan itu mulai diartikan beberapa warga sebagai sebuah ritual untuk meminta berkah. Bahkan, ada pula yang beranggapan ziarah ini akan memberi kekuatan mistis agar kehidupan mereka menjadi lebih baik di kemudian hari. Mereka juga meyakini bedak yang telah dicampur air dan diborehkan di belakang telinga atau dahi saat upacara berlangsung bisa menjadi tameng agar terhindar dari gangguan mahluk halus.
Menjelang matahari terbenam, peserta upacara mulai meninggalkan situs pemakaman Anggosuto. Namun, Upacara Nyadar belum berakhir. Malam harinya, warga Pinggir Papas masih harus menginap di sekitar makam Anggosuto untuk meneruskan prosesi lanjutan esok hari yang menjadi prosesi inti dari Upacara Nyadar, sebuah prosesi yang disebut sebagai Upacara Kaoman.
Seusai salat Subuh keesokan harinya, prosesi Kaoman pun dimulai. Ratusan tanggik berisi nasi tumpeng ditata rapi di sekitar makam. Penempatan tanggik disesuaikan dengan kelompok masing-masing. Dalam prosesi ini, ada dua kelompok sesepuh yang berbeda pendapat dalam menjalankan ritual Nyadar, yakni kelompok hitam dan putih yang dikenali dari ciri baju mereka.
Munculnya dua kelompok ini didasarkan polemik yang terjadi pada masa Kerajaan Sumenep. Konon, Raja Sumenep pernah melarang Upacara Nyadar ini. Tapi, kemudian timbul beberapa bencana penyakit di Sumenep. Atas nasihat para sesepuh kerajaan, Upacara Nyadar diadakan lagi. Dari sinilah kemudian muncul dua kelompok yang berbeda. Kelompok putih mewakili pemikiran atau tata cara lama seperti sebelum Nyadar dilarang dan kelompok hitam mewakili tata cara baru. Meski demikian, bentrokan tak pernah terjadi di antara dua kelompok ini.
Dengan kesadaran masing-masing, mereka pun mengatur agar Nyadar bisa dilakukan bersama-sama. Saat matahari naik sepenggalan, muncul empat orang yang berbaju warna-warni yang disebut Racok Saebu. Mereka bertugas menghitung jumlah panjeng yang ada dan melaporkannya ke pimpinan sesepuh yang disebut Juk Kae.
Puncak Nyadar pun dimulai. Para sesepuh berbaju hitam membuka langkah ritual dengan melakukan ziarah ke makam Anggosuto. Dua senjata warisan sang pangeran yang berupa keris dan kodik juga ikut dikeluarkan untuk menjaga di depan pintu makam. Tak lama kemudian giliran sesepuh berbaju putih masuk dan berdoa di makam.
Seusai ziarah dan pembacaan doa, kebersamaan antarkelompok pun dibangun. Tanggik berisi makanan dibuka dan doa kembali dilantunkan. Selanjutnya, mereka bersama-sama menyantap makanan dalam tanggik itu. Namun, warga tidak menghabiskan seluruh makanan. Sebagian lainnya dibawa pulang untuk dibagikan kepada fakir miskin, para anak yatim, dan tetangga yang tidak bisa mengikuti Nyadar.
Lengkap sudah warga Pinggir Papas menumpahkan kerinduan untuk mengucap syukur kepada sang penguasa Jagad Raya, yang telah memberi inspirasi kepada Anggosuto untuk membuka jalan kehidupan yang lebih baik di Pinggir Papas. Esok hari, mereka akan kembali menyusuri ladang-ladang garam untuk membawa kehidupan ke arah yang lebih baik seperti yang diharapkan sang Pangeran Anggosuto.(PIN/Tim Potret SCTV)

sumber : http://news.liputan6.com

Romeltea Media
Bumi Garam Updated at:

 
back to top